Pemkot Surabaya menetapkan target menurunkan angka pengangguran sebesar 0,4 persen tahun ini.

Gurutekno
Dinas Perindustrian dan Ketenagakerjaan (Disperinaker) Surabaya terus berupaya menurunkan angka pengangguran terbuka tahun ini.
Dari data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Surabaya, angka pengangguran terbuka di Kota Pahlawan konsisten turun sejak 2020. Pada 2024, Surabaya berhasil menurunkannya menjadi 4,91 persen.
Jika dibandingkan dengan angka pengangguran terbuka pada 2020, yaitu 9,79 persen, Surabaya berhasil menurunkannya secara signifikan. Namun, Disperinaker menetapkan target yang ambisius tahun ini.
“Tahun ini (2025) harapannya bisa turun lagi (angka pengangguran terbuka Kota Surabaya) sampai 0,4 persen atau lebih,” tutur Kepala Disperinaker Surabaya Agus Hebi Djuniantoro, Kamis (3/7).
Menurut Hebi, penurunan signifikan pengangguran di Surabaya ini tak terlepas dari implementasi aplikasi
Tautan dan Pertandingan
ASSIK (Arek Suroboyo Siap Kerja), yang kini sudah digunakan oleh lebih dari 38 ribu pengguna.
Melalui aplikasi ASSIK, pencari kerja dapat memperoleh pekerjaan sesuai dengan keahlian dan upah minimum kota (UMK) Surabaya. Hebi menyebutkan bahwa aplikasi ini banyak digunakan oleh pencari kerja yang produktif, yaitu berusia 18 tahun ke atas.
Mereka (pengguna ASSIK) belum tentu nganggur, mungkin ada yang sambil berdagang atau
menjadi pengemudi ojek
tetapi mendaftar karena ingin menjadi pekerja penerima upah untuk meningkatkan perekonomian keluarga,” imbuhnya.
Melalui aplikasi ASSIK juga, pencari kerja dapat mencari pekerjaan yang sesuai dengan keahlian dan gaji UMK. Hebi memastikan bahwa lowongan pekerjaan yang tersedia di aplikasi tersebut telah terverifikasi.
“Sehingga meminimalkan potensi lowongan kerja fiktif yang banyak beredar di media sosial. Ini merupakan salah satu upaya agar usia produktif mendapatkan pekerjaan di sektor yang sesuai dengan keahlian mereka,” kata Hebi.
Selain itu, berbagai upaya juga dilakukan oleh Disperinaker Surabaya untuk mencapai target ambisius menekan angka pengangguran terbuka Kota Surabaya pada angka 0,4 persen di tahun ini.
Di antaranya, melakukan pendataan pencari kerja usia produktif, menyiapkan tenaga kerja ahli melalui program pelatihan kerja dan kewirausahaan, menyebarluaskan informasi
pameran kerja
hingga ke wilayah pemukiman.
“Kami juga melibatkan DPMPTSP, jika terdapat pengusaha yang mengurus perizinan, direkomendasikan 60 persen pekerjanya merupakan orang ber-KTP Surabaya. Angka pengangguran terbuka targetnya dapat terus turun,” tukas Hebi.
