buahBudaya Makananhiburanmakanan dan minumanmasakan

Del Monte di Ambang Kebangkrutan, Legenda Rasa Buah Kaleng di Lidah Masa Kecil

Kenangan Manis dari Kaleng Hijau

Waktu kecil, hari raya, ulang tahun, dan momen istimewa lainnya selalu punya satu sajian spesial: buah koktil Del Monte. Disajikan dalam mangkuk kaca, dengan es batu dan susu kental manis, hidangan itu terasa mewah.

Di atas meja, berdiri kaleng hijau ikonik bertuliskan “Del Monte Fruit Cocktail”, seolah menyapa: “Ini adalah perayaan.”

Del Monte bukan hanya sekadar merek, tapi juga bagian dari kenangan masa kecil. Oleh karena itu, kabar bahwa perusahaan yang telah berusia 138 tahun ini kini berada di ambang kebangkrutan terasa seperti dentuman sendok yang jatuh—mengejutkan dan membangkitkan rasa kehilangan.

Berita Sedih dari Negeri Asal

Pada 1 Juli 2025, Del Monte Foods secara resmi mengajukan perlindungan kebangkrutan (Bab 11) di pengadilan New Jersey, Amerika Serikat.

Langkah ini diambil setelah perusahaan menghadapi kombinasi mematikan: krisis likuiditas, beban utang yang membengkak, dan penurunan tajam permintaan pascapandemi.

Utang perusahaan tercatat mencapai antara USD 1 miliar hingga USD 10 miliar, dengan kewajiban kepada lebih dari 10.000 kreditur.

Untuk mempertahankan operasi selama proses hukum, Del Monte memperoleh pendanaan darurat sebesar USD 912,5 juta dari para kreditur utamanya.

Proses penjualan aset sedang dilakukan, mencakup:

Merek utama Del Monte (buah & sayur kaleng), Produk Contadina (tomat kaleng), Kaldu dan sup College Inn serta Kitchen Basics.

Namun yang perlu digarisbawahi: kebangkrutan ini hanya berlaku untuk unit bisnis di Amerika Serikat. Perusahaan induknya, Del Monte Pacific Limited (DMPL) yang berbasis di Singapura dan memiliki operasi kuat di Filipina dan Asia, termasuk Indonesia, tetap beroperasi normal. Maka, produk Del Monte di Indonesia tidak terdampak langsung oleh proses hukum ini.

From Global Icon to Mirror of Food Industry Challenges

Didirikan pada tahun 1886, Del Monte pernah menjadi simbol kejayaan industri makanan kaleng Amerika. Produk-produknya menembus pasar global dan melekat kuat di Asia Tenggara.

Namun, dalam dunia yang kini bergerak cepat, kecepatan beradaptasi jauh lebih menentukan daripada sekadar nama besar. Del Monte dianggap lamban dalam menjawab perubahan pola konsumsi.

Konsumen kini lebih menyukai produk sehat, segar, rendah gula, dan bebas bahan kimia — sementara Del Monte tetap bertumpu pada pendekatan klasik.

Pasar Indonesia: Dinamika Rasa dan Dominasi Merek Lokal

Di Indonesia, Del Monte pernah berjaya, terutama lewat buah kaleng dan pasta tomat. Kini, merek ini mulai terpinggirkan oleh merek lokal dan internasional lainnya seperti:

ABC (saus tomat, sambal), La Fonte (pasta dan saus), Fiesta, dan bahkan merek global seperti Barilla.

Merek lokal memiliki keunggulan karena mereka lebih cepat beradaptasi dengan selera masyarakat Indonesia, menawarkan rasa yang lebih manis atau pedas, harga yang lebih kompetitif, serta strategi pemasaran digital yang agresif. Produk dari Thailand, Tiongkok, hingga Filipina juga memeriahkan pasar dengan beragam buah kaleng yang segar dan murah.

Akhir dari Era atau Awal Baru?

Del Monte mungkin kalah dalam pertarungan melawan zaman, tetapi ia menang dalam menciptakan warisan rasa dan kenangan. Merek ini telah hidup di hati kita jauh sebelum istilah “branding” menjadi jargon pemasaran.

Saya membayangkan, di balik kaleng buah itu, tersimpan potongan kecil dari masa lalu — saat keluarga duduk bersama di ruang makan sederhana, menikmati manisnya buah kaleng Del Monte sambil bercengkerama hangat, tanpa gawai, tanpa distraksi. Hanya kebersamaan dan rasa manis yang melekat hingga kini.

Kini, ketika kabar kebangkrutannya menyebar, saya tak bisa tidak merasa kehilangan. Bukan hanya kehilangan sebuah perusahaan tua, tetapi kehilangan bagian dari kenangan masa kecil — momen yang tak bisa dikalengkan kembali, hanya bisa disimpan di hati.

Namun dunia terus bergerak. Indonesia pun tak lagi hanya bergantung pada satu merek besar. Konsumen kini lebih cerdas, pilihannya lebih luas, dan produk lokal telah naik kelas, unjuk gigi di pasar yang makin kompetitif.

Ini bukan sekadar akhir dari sebuah era, tapi mungkin awal baru bagi industri makanan yang lebih dinamis, inklusif, dan mendekatkan rasa dengan budaya lokal.

Dari kisah Del Monte, kita belajar satu hal: sebesar apa pun nama sebuah merek, jika tidak sigap beradaptasi, ia bisa tumbang… dalam diam.

Penulis: Merza Gamal (Pensiunan Gaul Banyak Acara & Konsultan Transformasi Corporate Culture)

Catatan Penulis:

Jika Anda pernah merasakan manisnya buah Del Monte dalam masa kecil Anda, mungkin kini saatnya kita membuka kembali lembar kenangan dan menghargai setiap momen kecil itu — karena ternyata, rasanya tetap tinggal, bahkan saat kalengnya sudah hilang dari rak.

Tetap Semangat!!!

Tetap Semangat…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *