Beritabisnisfilmjurnalistikpolitik

4 Tips Robert Ronny Agar Ide Novel Diterima Produser


Jakarta, IDN Times –

Pagi itu, sebuah ruang rapat di Liberta Hub Blok M sudah dipenuhi orang. Meski cuaca mendung, suasana dalam ruangan tetap hangat dengan semangat para penulis dari berbagai generasi. Mereka berkumpul untuk menghadiri acara

Akademi Menulis Novel ke Film

pada Kamis (3/7/2025).

Laptop dan catatan berserakan di meja, menjadi alat tempur bagi mereka untuk menulis tips dari Produser Paragon Films Robert Ronny dan Novelis Andrei Aksana. Keduanya seru membahas soal cara-cara ide novel bisa menarik dan dapat bersifat sinematik.

Bagaimana caranya, ya? Berikut tips dari Robert Ronny!

1. Ide harus bisa diceritakan dalam satu kalimat

Robert Ronny duduk di depan televisi yang menampilkan karya-karya legendarisnya. Mulai dari

Critical Eleven, Kartini, Gadis Ter cantik di Dunia,

sampai

Losmen Bu Broto.

Di sampingnya, ada Andrei Aksana yang turut berbincang mengenai novel yang diangkat menjadi sebuah film.

Sebagai tips pertama dan paling penting, Robert Ronny menilai sinopsis novel harus dirangkum dalam satu kalimat agar bisa dijual ke produser. Dengan kalimat pendek tersebut harus mampu memikat hati produser untuk mengadaptasinya menjadi film.



Anda harus mampu menjualnya kepada produsen.

“Dengan satu, dua kalimat. Kalau tidak, berarti kalian harus pikir dulu, kalian buat tentang apa, sih?” ujar Robert Ronny dengan semangat kepada para peserta.

Ia juga memberikan contoh, “Contoh, ya yang laris manis penampilannya. Agak Berbeda. Tahu nggak premisnya apa? Sekelompok orang membuat rumah hantu di pasar malam, lalu ada yang benar-benar meninggal. Lucu,

tepat

satu kalimat.

2. Jangan takut membuat cerita yang niche!

Melanjutkan pembicaraan soal ide ceritanya, Robert Ronny meminta penulis jangan takut menulis kisah yang

niche

Produser kelahiran 1977 ini berpendapat bahwa sebuah kisah tidak harus menyasar pasar dengan kisah yang mayoritas memiliki banyak penggemar.

Menurutnya, kisah yang spesifik tetap dapat menyentuh hati penonton selama didasarkan pada riset. Ia memberikan contoh film tentang pasangan tua yang mengalami kesulitan memiliki anak. Meskipun pasar penonton saat ini didominasi oleh kalangan muda, Robert Ronny tetap percaya diri karena filmnya masih disajikan dengan situasi dan kondisi sehari-hari masyarakat itu sendiri.

“Jadi jangan takut membuat cerita

relung pasar

“Karena cerita makin spesifik. Tapi kalau punya nilai yang universal, itu pasti akan kena juga,” tegas Robert.

3. Genre apa yang paling mudah laku di pasaran?

Beralih ke genre cerita, produser Paragon Films tersebut mengatakan bahwa tidak semua tema cerita bisa laku di pasaran. Ia menyinggung isu politik dan sepak bola yang digemari masyarakat Indonesia dalam kehidupan sehari-hari.

Namun, mengapa film bertemakan sepak bola dan politik jarang laku di bioskop?

Robert Ronny menjelaskan, “Kalau menonton sepak bola itu di bioskop. Saat menonton bioskop, ‘Rasanya Indonesia tidak punya prestasi dalam sepak bola. Buat apa nonton sepak bola?'”

Kembali lagi ke politik. Setiap hari kita sangat muak melihat berita korupsi dan sebagainya. Terus disuruh membuat film tentang cerita politik. Lebih baik aku buka apa…

telepon genggam

“cuma berita banyak politik. Ngapain saya harus bayar Rp50 ribu buat nonton film politik?” lanjutnya disambut tawa kecil para peserta.

Meskipun demikian, Robert tidak ingin menjadikan karya tersebut hanya sebagai hiburan semata. Sambil membenarkan jasnya beberapa kali, Robert membagikan sudut pandangnya bahwa genre komedi dan horor bisa menjadi solusi.

“Menurut saya sebenarnya genre komedi itu sangat-sangat bagus untuk menyampaikan banyak keresahan. Dan komedi kan laku di Indonesia. Kedua genre horor itu banyak banget dibuat di negara-negara maju itu memkritik banyak hal,” katanya.

4. Sebelum mengajukan, perhatikan selera produsernya

Jika sudah yakin untuk mengajukan ide atau

melempar bola

, Robert Ronny memperingatkan agar penulis juga melihat bagaimana selera produsernya. Bukan berarti

rumah produksi

besar selalu membuat film berkelas, begitu juga sebaliknya. Menurutnya, itu kembali kepada sisi selera produser itu sendiri.

Menggunakan jawaban Joko Anwar yang ia ingat selalu, Robert Ronny mengatakan, “Lu perhatiin PH ini. Produser ini tuh punya film seperti apa, sama gak dengan selera lu. Kalau udah jelas-jelas gak sama, terus

pitch

ke dia, ya terus ditolak.

“Atau diterima, tapi terus diubah-ubah, ya jangan salahkan dia. Selera itu tidak bisa diubah. Hanya karena dia menjadi sukses dan sebagainya, lalu tiba-tiba mendengarkan lagu jazz. Ya, tidak, tetap (bisa saja) mendengarkan lagu dangdut,” lanjutnya.

Namun, Robert sampai maju untuk duduk di ujung kursinya menegaskan, “Dan sekali lagi, nggak ada yang benar-salah. Ini kan masalah selera.”

So, already know what you want

melempar

apa ide untuk produser?

7 Naskah Film Terbaik Sepanjang Masa Versi Writers Guild of America
IWF 2021: Mengulik Profesi Penulis Naskah Film dari Salman Aristo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *